Post Pertama NIh ! Pengakuan pendapatan pada perusahaan di sektor Properti.

Pada artikel ini kita akan melihat seberapa penting / akurat kita dapat menghitung proyeksi penjualan / pendapatan pada perusahaan di sektor Properti.



Pencatatan pendapatan pada laporan laba rugi sebuah perusahaan, berbeda - beda tergantung pada nature bisnis perusahaan tersebut.

Pada umumnya, perusahaan sudah dapat mencatat pendapatan tersebut ketika penjualan terjadi, dengan ditandai adanya perpindahan barang atau jasa yang diterima oleh pelanggan.

Tapi di beberapa sektor industri, dalam hal ini Industri Properti, pencatatan pendapatan pada laporan laba rugi dapat berbeda - beda pada setiap perusahaan.

Dan untuk perusahaan terbuka (TBK), sangat jarang terdapat perusahaan yang memperlihatkan detail kapan penjualan tersebut dapat diakui atau dicatat sebagai pendapatan di laporan laba rugi mereka.

Pada perusahaan properti, saat terjadi penjualan, pendapatan tidak serta merta langsung dapat diakui atau dicatat di laporan laba rugi perusahaan. Hal ini utama nya disebabkan karena metode pembayaran yang memang disesuaikan untuk menarik minat pelanggan. Mulai dari cara sederhana seperti Tunai / Cash Keras, Cicilan langsung ke Perusahaan (Developer terkait), ataupun melalui pihak ketiga seperti Bank (KPR).

Pada penjualan dengan cara Tunai / Cash keras, Perusahaan sudah dapat mencatat penjualan tersebut sebagai pendapatan setelah dilakukan serah terima asset properti tersebut dari Perusahaan (dalam hal ini Developer asset properti) ke pelanggan. Tentunya sangat jarang ada Developer yang langsung menyiapkan asset properti terlebih dahulu, baru menjual nya. Pada umumnya, setelah terjadi akad jual - beli, baru Developer akan memulai pembangunan. Setelah pembangunan selesai barulah dilakukan serah terima asset properti - umumnya serah terima asset properti dilakukan antara 1 - 2 tahun setelah akad dilakukan.



Setelah serah terima, maka perusahaan akan mencatat penjualan (dengan pembayaran secara Tunai / Cash Keras) tersebut sebagai pendapatan.

Demikian juga untuk jenis pembayaran yang lain.

Ketidakseragaman pengakuan pendapatan ini kebanyakan akan mempersulit kita sebagai investor untuk melakukan perhitungan proyeksi pendapatan perusahaan.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah melihat apakah perusahaan tersebut mempunyai peluang dari sisi asset. 

Apakah asset perusahaan tersebut sudah di apresiasi pasar? 

Apakah nilai buku nya sudah setara dengan nilai asset properti yang riil? 

Apakah ada potensi aksi korporasi yang dapat membuat market sadar akan nilai perusahaan yang sebenarnya?

Apakah ada sentimen yang dapat membuat market mengapresiasi harga saham perusahaan?

Apakah nilai perusahaan tersebut masih undervalue?

Apakah reward nya sebanding dengan risk?

Apakah kita berani masuk? Berapa banyak? Berapa lama?


Setelah kita mempertimbangkan jawaban pertanyaan - pertanyaan di atas, baru kita dapat menentukan posisi kita di saham tersebut. Apakah beli? atau baru kita pantau (masuk watchlist) ? atau kita drop karena perusahaan tersebut belum menarik.

 

Posting Komentar

0 Komentar